13 June 2016

Sore Itu

sore ini kembali jadi alas bagi rinai hujan
memasung tubuhku pada kursi rotan
harum daun rebus membelai hidung
sembari kucumbu cangkir dengan mesra

mereka memang teman setia
selalu hadir tiap kulepas cahaya terakhir
sebelum malam selimuti
keruhkan kota
kelamkan jiwa

tapi ada yang lain
yaitu wajah ayu milikmu
yang tergenang di dasar cangkirku
bergoyang bersama ampas daun
juga di tembok-tembok kamar yang pucat

senyummu tak memudar
seolah mengejek hujan yang semakin deras
lalu jantungku kedatangan tamu
tamu yang tahun-tahun lewat tiada berkunjung
yaitu debar
di sore yang basah ini dia mesti datang
mengorek batinku yang sempat bimbang

kuisi kedua paruku dengan angan
angan yang sempat kusarangkan di telingamu
di ujung malam ketika Selasa itu
walau hanya lewat dering yang kau jawab
namun tulus

akan kuikat kotamu
kupasang belenggu di kakinya
agar jangan ia lari
sebelum aku tiba di sana
sebelum kuketuk pintumu

saat itu
biar hatiku jadi buah tangan
yang kubawa
lalu kau sajikan di meja
beserta gudeg dan krecek
bila tiba sore itu
biar jadi alas bagi rinai hujan

-Julio Andretti

24 May 2016

Hati Yang Indah

bergeming bulan kurayu
berkelip bintang isyarat
sendiri sahaja selalu
memeri lara menyayat

dinda juwita
terbang pergi
jiwa kelana
hilang arti

yakin nanti
jumpa lagi
tagih janji
ambil hati

-Julio Andretti, Sei Jodoh.
Tagih janjiku, ambil hatiku.

01 May 2016

Kepada Diri

jalanmu terjal dan miring
penuh aral juga beling
mesti lebar senyum gigimu
teguh tegar kuat hatimu

doa ibu tak kan hilang
untuk kamu yang berjuang
jangan segan bantu orang
pasti Tuhan menaruh sayang

jujur lidah apa adanya
niscaya cerah batin dan jiwa
sujud ibadah tonggak dunia
jangan pernah kamu jumawa

jamah wanita bukan tangan
tapi setia dan teladan
jadi pemimpin dimulai dua
bukan tak mungkin nanti selaksa

jodoh sayang jangan dicari
bodoh buang dari dalam diri
akan datang dia menghampiri
bila matang dirimu nanti

-Julio Andretti, Batu Ampar.

29 April 2016

Segenap Hati

jiwa berduka cita terluka
hujan kuminta kering melanda

janji juwita tiada nyata
coba bertanya tanpa berkata

malam mencekam raga mendekam
pedih menjelang karena mengenang

cinta tersimpan sayang tercipta
selaksa angan dalam tapa

esok datang fajar terang
menanti kembang habis gersang

ada rasa utuh kujaga
pada siapa akan kumakna

segenap hati seluruh jiwa
akan kuberi pada saatnya

-Julio Andretti, Tanjung Uban.

Mutiara

wahai kau penunggu malam
jangan kau sembunyikan dagu
tataplah bintang kemilau
kepulkan debu di langkahmu

bila hari turun temaram
buka pelita bakarlah sumbu
patahkan aral di tanah rantau
lambungkan semangat menggebu

risau gelisah perasaan
doa dan keringat obatnya
mutiara yang kau simpan
akan tiba jodohnya

-Julio Andretti, Tanjung Uban.

21 April 2016

Telaga Sebong

telaga sunyi sedang bersolek
disiangi mentari merayap dari pantai
silau berkilau bak kolam berlian
dipagar barisan pepohon yang iri

angin berkejaran di antara rerumput
memeras riang dari hati setiap saksi
di telinga kicau burung berbisik
tentang hasrat bermesraan
dengan debur air yang merayu

namun apa daya
dikau di seberang
terbingkai jendela yang bisu

daku di sini
terpasung kursi yang terkekeh
terbelenggu papan ketik

-Julio Andretti, Sebong Lagoi.

21 February 2016

random diary

I have always tried to do everything alone, because I know and I realized long ago that I was alone and will always be alone. That I am strong and capable of many accomplishments by myself. That I am better of by myself. That I don't need anyone. I don't need any inheritance, any protection. Though I am still willing to help others, even more than willing. I stepped over the line to give a hand to anybody, even to people I haven't met before. I came down from my place to simply offer a hand to them even to the ones I dislike. In time of need I'm always the one to be the first to volunteer. Without asked, without request, I simply try what I can do. Without hoping something in return. It is me, my instinct. Or maybe the love of my mother, or perhaps my fondness of inspirational patriotic characters and stories. I don't regret it, in fact I feel better to be this way.

But some days, when I feel broken the most, when life turned its back on me, when I am alone and I have no one to comforts me, it struck me heavily I can feel it inside my chest that there is no one like me who will be there for me somehow. I always managed to lock it down, those horrible and crippling feelings deep down. That thirst of someone that will hold me down from my maddening sadness, someone that will look at my scars and weep, someone that will look at my filth with caressing intent. Someone that I can open myself to and then told "I knew". But alas, needle in a hay stack.

I always put a gentle smile on my face to make it subtle. To impersonate the strong version of me. Until the night comes.

I just want someone that will pick up the pieces of my shattered heart and put it back together and say "From now on, I will keep this with me".

17 January 2016

Kencan di Kedai Mie

Malam ini kembali kukencani kesendirianku, di tempat biasa di kedai mie. Uap dari helai-helai kuning yang timbul tenggelam, selalu jadi atraksi di bawah malam yang kelam. Jarang kupesan unggas dalam minyak panas, ususku tak sekosong itu. Lalu mereka datang, wanita-wanita penghiburku. Aku memang dikenal punya banyak wanita, mereka adalah angin malam, asap tembakau, dan lamunan kosong. Lalu aspal hitam pun mulai bernyanyi, tentang kesahku dan renungku. Inilah suguhan yang kunikmati, di setiap malam ketika sendu. Kemudian sebutir peluru melubangi kepalaku, armada hujan mulai menembakkan senapan-senapannya. Seketika kucengkeram kuda besiku yang setia, ringkikannya yang membelah malam menjadi tanda kencan telah usai.

-Julio Andretti, Tanjung Uban.

16 January 2016

Sirna

sekilas pandang ku terjerat
oleh lenggok yang keraton
dalam kepala angan direka
buka hatiku yang sombong

lalu angin bersiul mendengung
seolah menolak dengan lantang
lembayung awan pun terhuyung
memercik rinai di wajah petang

lalu kelabu payungi kota
menebar sepi di pantai dewata
serupa janjimu yang alpa
menjangkit hampa ke dalam lupa

bedakmu pucat menutup nalar
senyum semanis madu dilempar
namun dusta terlanjur kau umbar
lahirkan bisu tanpa kelakar

dan hilang segala rasa
tenggelam ditelan gelombang
habis sirna tiada tersisa
tinggal tegur sapa yang gersang

-Julio Andretti, Tanjung Uban.

Aku Lelaki

debu waktu menempel keningku
kuseka dengan sapu tangan ibu
serta peluh mengering di sekujur
menjelma jadi denting piring

seringkali mentari keras menerjang
meski tak sekeras kakiku
meliku segala pintas kota
walau aral beranak pinak

debu waktu meleleh di mataku
menetes angan yang menguap
menghitung malam-malam tanpa lelap
diiring senandung senyap

aku lelaki
sejujur api seluhur padi
segiat kuda seliat tembaga
tak bolehkah aku bahagia

bisikan doa kubaca
kepada Tuhan menghamba
uji aku lewat cinta
utus aku mutiara

-Julio Andretti, Tanjung Pinang.

15 January 2016

Telaga

kau cantik menawan senyap bersimpuh
memanggil merayu terbingkai jendela
mencuri merenggut semua lamunanku
di antara kertas-kertas pucat bertabur angka

parasmu yang jelita menagih asa
tersohor di seluruh teluk
hadirmu jadi penyejuk
bagi mereka yang lalu lalang

rasanya ingin kuhampiri dirimu
duduk bercengkerama di sampingmu
sambil kuseruput mentari yang hangat
hingga jangkrik memanggil malam

oh telaga Lagoi
ingin kubaca seribu tanya untukmu
mungkin sambil kupetik gitar
mungkin sambil kugores pena

namun tak jua tiba saat itu
mungkin aku selalu letih
atau hari terlanjur gelap
setiap ku jumpa dirimu

-Julio Andretti, Sebong Lagoi.

12 January 2016

Gadis

bunga merah jambu yang berduyun
tak mampu hibur gulana hati
awan yang bergulung digeli mentari
tak sanggup bengkokkan senyumku

terik yang kerontang
teduhiku dengan pedih
tentang bibirmu yang berlumur dusta

mestikah kau ucapkan
ketika berdua semeja
waktu hati kubuka lebar

haruskah kau katakan
jika memang tiada
bila nyata kosong

meski tiap kata yang kumuntahkan
kucabut dari hati paling dalam
segenap niat yang kubentangkan
seluhur kasih sayang ibuku

langkahku mantap berderap
jadi kedok jiwa yang gontai
tegur sapa yang jenaka
jadi tirai bagi asaku

-Julio Andretti, Lagoi.

10 January 2016

Bangkai Kapal

di dermaga biru
kita duduk bersebelahan
menghitung kapal-kapal berselimut kabut
camar-camar menjerit diusir ombak
seolah mengerti aku tak mau diganggu

rambutmu bagai ular
membelit rinduku
matamu layaknya bulan
yang membius malam

sejenak aku berfikir
inikah alasan aku terbang
meninggalkan pikuk ibukota
tapi tunggu
belum kutelanjangi hatimu
tiada kukenal sifat akhlakmu
maka biar kita bertukar lewat kata
kulemparkan pesan-pesan singkat
kudengarkan desah manjamu
agar aku tahu dewi atau siluman
agar kau tahu sejati atau bajingan

namun bangkai kapal yang bermandi gelombang
seperti terkekeh di kejauhan
pasir yang berkerumun
seolah asyik bergunjing

-Julio Andretti, Tanjung Uban.

Pilu

irama lagu berdentum memekak
aroma plesir tersesap di paru
gelegak nadiku memuncak
menari melompat oh malam kelabu

namun jiwa ini kosong
seperti sumur kering
yang dikutuki pengembara

senyum yang kukembang
canda yang kujelang
sekedar bayang semu
dari hati yang berlinang

nona manis yang lugu
urung bercengkerama
bagai buku enggan dibaca
karena sampulku yang bingar

di pulau ini kutitipkan
sepenggal hikayat hidup
sembari mencari cahaya
yang aku tak tahu di mana

aku rindu
bau rambut ibu
lengkingan kereta
cekikan dasi

demi basuh luka
biar kutinggal semua
kubuka lembaran baru
menutup cerita yang usang

-Julio Andretti, Bintan.

06 September 2015

Ingatkah Kau

ingatkah kau
pada malam itu
ketika kujumpa dirimu
di sebuah warung telepon sebelah gereja
di pinggir Jakarta
setengah berlari kau mendekat
lalu kau selang jemarimu jemariku
di bawah siraman temaram lampu jalan
terdengar paduan suara di kejauhan
beserta dingin malam yang merayap di kerah baju
kau tatap mataku dengan seluruh perasaan
sembari kau persembahkan hatimu
lalu di antara bibir yang beradu
kau ucapkan sebuah kalimat
"Hanya kau satu yang aku cinta untuk selama-lamanya"
ingatkah kau

-Julio Andretti

15 August 2015

Ingin Kutulis

ingin kutulis
gemuruh bisikanmu
bangunkanku pada fajar

ingin kutulis
lentik jemarimu
yang membelit tangkai cangkir
teh seduh kegemaranku

ingin kutulis
liuk rambut panjang
menebar semerbak
melumpuhkan amarah

ingin kutulis
hangat hembusan nafasmu
jatuh di leherku
ketika hujan menari di jendela

ingin kutulis pula
cinta yang beranak pinak
di dalam hatiku
tanpa terbendung

-Julio Andretti

23 June 2015

Melati

luka yang tergores di ujung hatimu
kau sebut lantaran langkahku menjauh
pedih yang terselip di sela rusukmu
kau yakin karena perahuku tak jua berlabuh

namun sejak awal tahun ganjil
gelak tawa yang berlompatan
tegur sapa yang keliaran
bukankah mereka yatim piatu
bukankah mereka tiada pamrih

pada fajar kukumandangkan
tentang hatiku yang tak mungkin bermain
mengapa pada petang kau lahirkan air mata
membasuh tinta yang kita tulis

tunas melati yang kunanti
nyatanya berbunga mawar
rasa di dalam hati
kini sesat terlantar

tapi buku yang kutulis masih terbuka
pena yang sombong masih menari
jangan kau campak dengan murka
buat seindah pelangi di tengah hari

-Julio Andretti

14 March 2015

Hanya Satu

renyah tawamu menggema di pucatnya dinding
hinggap di telingaku
jadi penawar bagi rasa kantukku
mengusir mimpi lekas terjaga

Sabtu pagi jadi saksi
rinduku yang masih tersimpan
rasaku kepadamu yang tiada habis
mataku meronta dari belitan lelap

kupanggil namamu
menyusuri lorong-lorong sepi
menggetarkan debu-debu
namun tiada balas
hanya air mukaku yang tertegun
berusaha menyaring kenyataan dari angan

bahwa kau tak lagi di sini
suaramu tak mendendang telingaku
jemarimu tak lagi cairkan tinjuku
panas tubuhmu tiada bakar semangatku

apa aku setengah gila
seringaimu tak mau pergi
bau parfum yang kau balur
masih tercium

tolonglah aku
bagiku hanya satu
kamu takkan usai
aku milikmu
puisiku tentangmu
tak sanggup jatuh cinta lagi
selain kepadamu

-Julio Andretti


02 March 2015

Gundah

wajah kuningmu mencuri mimpi
menyayat malam tangisku bisu
sayu mata urung memejam
hingga fajar mengintip di jendela

seolah hendak kubalik gunung
atau kutangkap bayang-bayang
mustahil lupa padamu
layaknya sungai pada hujan

03 February 2015

Ibu

ibu selalu bercerita
almarhum nenek begitu sayang pada ibu
mungkin karena itu ibu begitu sayang padaku
buku jemarinya tak sungkan menggosok kerah seragamku
pena di tangannya tak berhenti menari
kala mengguratkan angka matematika untukku
doanya menguraikan gelap pagiku
hangat setrikanya terpampang di lipatan celanaku

"mana ibu?"
tanyaku pada bapak ketika pulang sekolah
ketika bangun pagi
setelah mandi
"mana ibu?"
"ke warung sebentar"
"kok lama ya"
aku takut bila tak melihat ibu
ibu tahu di mana kaus kaki merahku
ibu tahu di mana baju kesukaanku
ibu tahu bila hatiku sedang sedih

aku teringat kala ibu membawaku ke pasar
membelikanku kapal-kapalan dari seng
tokotokotokotokotok
begitu bunyinya
aku senang sekali....