17 January 2016

Kencan di Kedai Mie

Malam ini kembali kukencani kesendirianku, di tempat biasa di kedai mie. Uap dari helai-helai kuning yang timbul tenggelam, selalu jadi atraksi di bawah malam yang kelam. Jarang kupesan unggas dalam minyak panas, ususku tak sekosong itu. Lalu mereka datang, wanita-wanita penghiburku. Aku memang dikenal punya banyak wanita, mereka adalah angin malam, asap tembakau, dan lamunan kosong. Lalu aspal hitam pun mulai bernyanyi, tentang kesahku dan renungku. Inilah suguhan yang kunikmati, setiap kusibak tirai kehidupan di pintu kedai. Kemudian sebutir peluru melubangi kepalaku, armada hujan mulai menembakkan senapan-senapannya. Seketika kucengkeram kuda besiku yang setia, ringkikannya yang membelah malam menjadi tanda kencan telah usai.

-Julio Andretti, Tanjung Uban.

16 January 2016

Sirna

sekilas pandang ku terjerat
oleh lenggok yang keraton
dalam kepala angan direka
buka hatiku yang sombong

lalu angin bersiul mendengung
seolah menolak dengan lantang
lembayung awan pun terhuyung
memercik rinai di wajah petang

lalu kelabu payungi kota
menebar sepi di pantai dewata
serupa janjimu yang alpa
menjangkit hampa ke dalam lupa

bedakmu pucat menutup nalar
senyum semanis madu dilempar
namun dusta terlanjur kau umbar
lahirkan bisu tanpa kelakar

dan hilang segala rasa
tenggelam ditelan gelombang
habis sirna tiada tersisa
tinggal tegur sapa yang gersang

-Julio Andretti, Tanjung Uban.

Aku Lelaki

debu waktu menempel keningku
kuseka dengan sapu tangan ibu
serta peluh mengering di sekujur
menjelma jadi denting piring

seringkali mentari keras menerjang
meski tak sekeras kakiku
meliku segala pintas kota
walau aral beranak pinak

debu waktu meleleh di mataku
menetes angan yang menguap
menghitung malam-malam tanpa lelap
diiring senandung senyap

aku lelaki
sejujur api seluhur padi
segiat kuda seliat tembaga
tak bolehkah aku bahagia

bisikan doa kubaca
kepada Tuhan menghamba
uji aku lewat cinta
utus aku mutiara

-Julio Andretti, Tanjung Pinang.

15 January 2016

Telaga

kau cantik menawan senyap bersimpuh
memanggil merayu terbingkai jendela
mencuri merenggut semua lamunanku
di antara kertas-kertas pucat bertabur angka

parasmu yang jelita menagih asa
tersohor di seluruh teluk
hadirmu jadi penyejuk
bagi mereka yang lalu lalang

rasanya ingin kuhampiri dirimu
duduk bercengkerama di sampingmu
sambil kuseruput mentari yang hangat
hingga jangkrik memanggil malam

oh telaga Lagoi
ingin kubaca seribu tanya untukmu
mungkin sambil kupetik gitar
mungkin sambil kugores pena

namun tak jua tiba saat itu
mungkin aku selalu letih
atau hari terlanjur gelap
setiap ku jumpa dirimu

-Julio Andretti, teluk Sebong.

12 January 2016

Gadis

bunga merah jambu yang berduyun
tak mampu hibur gulana hati
awan yang bergulung digeli mentari
tak sanggup bengkokkan senyumku

terik yang kerontang
teduhiku dengan pedih
tentang bibirmu yang berlumur dusta

mestikah kau ucapkan
ketika berdua semeja
waktu hati kubuka lebar

haruskah kau katakan
jika memang tiada
bila nyata kosong

meski tiap kata yang kumuntahkan
kucabut dari hati paling dalam
segenap niat yang kubentangkan
seluhur kasih sayang ibuku

langkahku mantap berderap
jadi kedok jiwa yang gontai
tegur sapa yang jenaka
jadi tirai bagi asaku

-Julio Andretti, Lagoi.

10 January 2016

Bangkai Kapal

di dermaga biru
kita duduk bersebelahan
menghitung kapal-kapal berselimut kabut
camar-camar menjerit diusir ombak
seolah mengerti aku tak mau diganggu

rambutmu bagai ular
membelit rinduku
matamu layaknya bulan
yang membius malam

sejenak aku berfikir
inikah alasan aku terbang
meninggalkan pikuk ibukota
tapi tunggu
belum kutelanjangi hatimu
tiada kukenal sifat akhlakmu
maka biar kita bertukar lewat kata
kulemparkan pesan-pesan singkat
kudengarkan desah manjamu
agar aku tahu dewi atau siluman
agar kau tahu sejati atau bajingan

namun bangkai kapal yang bermandi gelombang
seperti terkekeh di kejauhan
pasir yang berkerumun
seolah asyik bergunjing

-Julio Andretti, Tanjung Uban.

Pilu

irama lagu berdentum memekak
aroma plesir tersesap di paru
gelegak nadiku memuncak
menari melompat oh malam kelabu

namun jiwa ini kosong
seperti sumur kering
yang dikutuki pengembara

senyum yang kukembang
canda yang kujelang
sekedar bayang semu
dari hati yang berlinang

nona manis yang lugu
urung bercengkerama
bagai buku enggan dibaca
karena sampulku yang bingar

di pulau ini kutitipkan
sepenggal hikayat hidup
sembari mencari cahaya
yang aku tak tahu di mana

aku rindu
bau rambut ibu
lengkingan kereta
cekikan dasi

demi basuh luka
biar kutinggal semua
kubuka lembaran baru
menutup cerita yang usang

-Julio Andretti, Bintan.

06 September 2015

Ingatkah Kau

ingatkah kau
pada malam itu
ketika kujumpa dirimu
di sebuah warung telepon sebelah gereja
di pinggir Jakarta
setengah berlari kau mendekat
lalu kau selang jemarimu jemariku
di bawah siraman temaram lampu jalan
terdengar paduan suara di kejauhan
beserta dingin malam yang merayap di kerah baju
kau tatap mataku dengan seluruh perasaan
sembari kau persembahkan hatimu
lalu di antara bibir yang beradu
kau ucapkan sebuah kalimat
"Hanya kau satu yang aku cinta untuk selama-lamanya"
ingatkah kau

-Julio Andretti

15 August 2015

Ingin Kutulis

ingin kutulis
gemuruh bisikanmu
bangunkanku pada fajar

ingin kutulis
lentik jemarimu
yang membelit tangkai cangkir
teh seduh kegemaranku

ingin kutulis
liuk rambut panjang
menebar semerbak
melumpuhkan amarah

ingin kutulis
hangat hembusan nafasmu
jatuh di leherku
ketika hujan menari di jendela

ingin kutulis pula
cinta yang beranak pinak
di dalam hatiku
tanpa terbendung

-Julio Andretti

23 June 2015

Melati

luka yang tergores di ujung hatimu
kau sebut lantaran langkahku menjauh
pedih yang terselip di sela rusukmu
kau yakin karena perahuku tak jua berlabuh

namun sejak awal tahun ganjil
gelak tawa yang berlompatan
tegur sapa yang keliaran
bukankah mereka yatim piatu
bukankah mereka tiada pamrih

pada fajar kukumandangkan
tentang hatiku yang tak mungkin bermain
mengapa pada petang kau lahirkan air mata
membasuh tinta yang kita tulis

tunas melati yang kunanti
nyatanya berbunga mawar
rasa di dalam hati
kini sesat terlantar

tapi buku yang kutulis masih terbuka
pena yang sombong masih menari
jangan kau campak dengan murka
buat seindah pelangi di tengah hari

-Julio Andretti

14 March 2015

Hanya Satu

renyah tawamu menggema di pucatnya dinding
hinggap di telingaku
jadi penawar bagi rasa kantukku
mengusir mimpi lekas terjaga

Sabtu pagi jadi saksi
rinduku yang masih tersimpan
rasaku kepadamu yang tiada habis
mataku meronta dari belitan lelap

kupanggil namamu
menyusuri lorong-lorong sepi
menggetarkan debu-debu
namun tiada balas
hanya air mukaku yang tertegun
berusaha menyaring kenyataan dari angan

bahwa kau tak lagi di sini
suaramu tak mendendang telingaku
jemarimu tak lagi cairkan tinjuku
panas tubuhmu tiada bakar semangatku

apa aku setengah gila
seringaimu tak mau pergi
bau parfum yang kau balur
masih tercium

tolonglah aku
bagiku hanya satu
kamu takkan usai
aku milikmu
puisiku tentangmu
tak sanggup jatuh cinta lagi
selain kepadamu

-Julio Andretti


02 March 2015

Gundah

wajah kuningmu mencuri mimpi
menyayat malam tangisku bisu
sayu mata urung memejam
hingga fajar mengintip di jendela

seolah hendak kubalik gunung
atau kutangkap bayang-bayang
mustahil lupa padamu
layaknya sungai pada hujan

03 February 2015

Ibu

ibu selalu bercerita
almarhum nenek begitu sayang pada ibu
mungkin karena itu ibu begitu sayang padaku
buku jemarinya tak sungkan menggosok kerah seragamku
pena di tangannya tak berhenti menari
kala mengguratkan angka matematika untukku
doanya menguraikan gelap pagiku
hangat setrikanya terpampang di lipatan celanaku

"mana ibu?"
tanyaku pada bapak ketika pulang sekolah
ketika bangun pagi
setelah mandi
"mana ibu?"
"ke warung sebentar"
"kok lama ya"
aku takut bila tak melihat ibu
ibu tahu di mana kaus kaki merahku
ibu tahu di mana baju kesukaanku
ibu tahu bila hatiku sedang sedih

aku teringat kala ibu membawaku ke pasar
membelikanku kapal-kapalan dari seng
tokotokotokotokotok
begitu bunyinya
aku senang sekali....

16 January 2015

Hambar

nyiur berbaris rapi bak pasukan
seolah menanti untuk kuhitung
elok pasir putih yang bergelombang
membuat iri ombak yang menari

bola api terselip di saku awan
angin utara tegas mendengung
gaun si jelita melambai-lambai
alkohol sirup menyatu dalam gelas....

08 October 2014

Jemari

senyummu yang melengkung
dalam foto pada jejaring
menjadi upah yang kuterima
bagi cinta yang tersimpan

pedih yang tercipta
kutitipkan pada ibu kota
biar jadi kenangan
tentang jemarimu gelisah kugenggam

jauh sudah aku berlari
ke pulau kapal lalu lalang
namun malam yang kutemui
masih berhiaskan rembulan

entah apa yang kucari
di lautan penuh buih
selain hatimu
selain rambutmu....

19 December 2013

Hujan

menunggang hujan menuju sore
gemericik air memantul jendela
berkursi reyot bernafas kenang
menyeduh daun mencumbu cangkir

waktu hatiku beranak rindu
kala mega menangis sendu
raut wajah mengusik kalbu
gandrung asmara masa lalu ....

27 October 2013

Intan

intan yang mengkilat kuangkat
dari celah cadas yang kubelah
dengan susah payah
kutatap bagai jabang bayi

terbang dibawa Gagak
ke seberang jurang
masuk dalam hutan
hilang pergi ....

07 June 2013

Tamu

pintu kayu yang berdiri tegap tiba-tiba berbunyi "Tok, tok, tok!"
rupanya malam ini aku kedatangan tamu
kubuka pintu pada sosok sayu
seketika kukenali si compang camping itu ....

05 June 2013

Pagi

semburat kemilau menyayat pukau
merebak semerbak harum mewangi
rimbun embun berkilau-kilau
di taman kembang mentari menari

bayang dedaun meronta jenaka
serupa wayang ditimang dalang
lambat laun surya terjaga
naik mengawang menjelang terang ....

26 May 2013

Hari Libur

akhirnya hari libur pulang juga
ia pergi karena benci pada dasi dan sepatu yang kupakai di pagi hari
tapi pagi ini dasi melingkar di lubangnya
dan sepatu berduaan bermain kaos kaki

hari ini hari libur telah kembali
dan raja siang mulai tinggi meniti hari
setelah menggarong malam dari kolong bulan bagai menciduk ikan dari balong
kini memerintah buana dengan sombong macam gembong
tunggu saja sampai awan lewat terhuyung
mengarung langit dengan mendung
pasti mentari bersembunyi takut bagai curut
lalu luput berselimut dan tersaput kabut
sampai balada hujan bernyanyi bercerita
berdansa-dansa dengan derasnya
dan beningnya mulai mengisi jalan raya
menakut-nakuti gubernur Jakarta

tapi itu hanya angan
jarum pendek masih menodong angka delapan
dan pelan perlahan surya berjalan berjingkat di halaman berguling di taman
sampai ditelan setengah bumi ke dalam terangnya yang tanpa lawan

ini hari bagus
roti hangus sudah kuberangus
teh rebus pun pupus
haus putus
kantuk sudah terhapus semangat pun meletus
membius
menggerus
aku bagai banteng yang mendengus menghembus
bagai Gayus yang rakus korupsi terus menerus

aku pun bangkit
dari kursi kayu yang mencicit
kuambil sapu dan kemoceng yang berhimpit di lemari sempit
dan debu-debu mulai menjerit
noda dan kotoran lari terbirit-birit ....